5 Kesalahan Umum Peneliti dalam Urusan ISBN dan Bagaimana Menghindarinya

Bagi banyak peneliti, menerbitkan buku merupakan salah satu capaian penting. Baik itu monograf, buku ajar, maupun hasil penelitian yang dibukukan, kehadiran ISBN (International Standard Book Number) sangatlah krusial. ISBN bukan hanya deretan angka, tetapi identitas resmi buku yang membedakannya dari karya lain serta memudahkan pencatatan di perpustakaan dan indeks global.

Namun, masih banyak peneliti yang mengalami kesulitan atau bahkan gagal dalam pengajuan ISBN. Berikut adalah 5 kesalahan umum peneliti dalam urusan ISBN dan bagaimana cara menghindarinya.


1. Tidak Memahami Perbedaan ISBN dengan ISSN

Kesalahan:
Banyak peneliti yang masih rancu antara ISBN dan ISSN. ISBN digunakan untuk buku, sedangkan ISSN digunakan untuk jurnal berkala. Kesalahan memahami ini bisa membuat proses administrasi menjadi kacau.

Cara Menghindari:
Pastikan sejak awal memahami jenis karya yang ingin diterbitkan. Jika berupa buku hasil penelitian atau monograf, maka yang dibutuhkan adalah ISBN, bukan ISSN.


2. Mengajukan ISBN dengan Naskah yang Belum Final

Kesalahan:
Sebagian peneliti terburu-buru mengajukan ISBN padahal naskah masih berupa draft. Akibatnya, ada revisi besar setelah ISBN diajukan, sehingga berpotensi menimbulkan perbedaan data antara naskah dan ISBN.

Cara Menghindari:
Pastikan naskah 100% final sebelum diajukan. ISBN hanya diajukan untuk karya yang siap cetak atau sudah dalam bentuk buku. Jika ada revisi signifikan setelahnya, biasanya harus mengurus ISBN baru.


3. Tidak Melengkapi Dokumen Administrasi

Kesalahan:
Seringkali peneliti lupa melampirkan dokumen pendukung seperti halaman judul, daftar isi, sinopsis, dan biodata penulis. Padahal dokumen ini wajib ketika mengajukan ISBN melalui Perpusnas RI atau penerbit resmi.

Cara Menghindari:
Siapkan seluruh dokumen sesuai persyaratan Perpusnas, antara lain:

  • Halaman judul lengkap dengan nama penulis dan penerbit.
  • Daftar isi.
  • Sinopsis singkat.
  • Data penulis/penyusun.
  • Formulir pengajuan ISBN.

4. Salah Memilih Kategori Buku

Kesalahan:
Beberapa peneliti salah mengategorikan bukunya, misalnya monograf dimasukkan sebagai buku ajar atau sebaliknya. Hal ini bisa berpengaruh pada klasifikasi katalog dan bahkan penilaian akademik.

Cara Menghindari:
Diskusikan dengan penerbit mengenai kategori yang tepat. Jika buku merupakan hasil riset mendalam dengan fokus pada satu topik, sebaiknya masuk kategori monograf. Jika dipakai untuk mengajar di kelas, lebih tepat disebut buku ajar.


5. Mengurus ISBN Tanpa Penerbit Resmi

Kesalahan:
Ada peneliti yang mencoba mengurus ISBN sendiri tanpa penerbit. Padahal Perpusnas hanya memberikan ISBN melalui penerbit resmi yang terdaftar. Akibatnya, pengajuan sering tertolak.

Cara Menghindari:
Pastikan Anda bekerja sama dengan penerbit resmi atau lembaga penerbitan kampus yang terdaftar di Perpusnas. Jika tidak punya akses, gunakan jasa penerbit profesional yang bisa membantu proses ISBN hingga cetak buku.


Penutup

Mengurus ISBN sebenarnya tidak sulit jika peneliti memahami prosedur dengan baik. Dengan menghindari lima kesalahan umum di atas, proses penerbitan buku hasil penelitian akan berjalan lebih lancar dan karya ilmiah Anda dapat diakui secara resmi.

Jika Anda ingin buku Anda ber-ISBN, kami siap membantu